Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dilema Arsitek Murah & Arsitek Profesional

ARSITEKA | Produsen Maket Diorama

Jl. Saturnus Sel. VI No.3, Margasari, Kec. Buahbatu, Kota Bandung
0852-8233-2520

Gaya Arsitek Status Arsitek Profesional pada umumnya adalah Arsitek yang telah memiliki sertifikat keprofesian (seperti dari IAI) dan memenuhi standar internasional dari UIA (Union Internationale des Architectes) / UNESCO Charter for Architectural Education:

  • An ability to create architectural designs that satisfy both aesthetic and technical requirements.
  • An adequate knowledge of the history and theories of architecture and the related arts, technologies and human sciences.
  • A knowledge of the fine arts as an influence on the quality of architectural design.
  • An adequate knowledge of urban design, planning and the skills involved in the planning process.
  • An understanding of the relationship between people and buildings, and between buildings and their environment, and of the need to relate buildings and the spaces between them to human needs and scale.
  • An understanding of the profession of architecture and the role of the architect in society, in particular in preparing briefs that take account of social factors.
  • An understanding of the methods of investigation and preparation of the brief for a design project.
  • An understanding of the structural design, constructional and engineering problems associated with building design.
  • An adequate knowledge of physical problems and technologies and of the function of buildings so as to provide them with internal conditions of comfort and protection against the climate.
  • The necessary design skills to meet building users' requirements within the constraints imposed by cost factors and building regulations.
  • An adequate knowledge of the industries, organisations, regulations and procedures involved in translating design concepts into buildings and integrating plans into overall planning.

Salah satu kendala dari arsitek dengan bayaran 'murah' yang berkelana di dunia maya (internet) ini dan melayani seluruh bagian di Indonesia adalah tidak mampunya mereka mensurvei lokasi yang akan digambar desainnya karena keterbatasan dana untuk 'wara-wiri' ke lokasi yang berada di luar kota si arsitek itu berada. Akibatnya si arsitek kurang mengenal kondisi lahan (tapak). Dia tidak bisa merasakan iklim dan situasi disana, dimana disana bisa saja dipengaruhi lingkungan sekitarnya (misalnya lingkungannya ternyata berbau yag tidak sedap, entah berasal dari lingkungan tetangganya ataupun berasal dari saluran pembuangan lingkungan itu sendiri >> maka perlu pertimbangan lebih seksama untuk mamanfaatkan fungsi ventilasi yang diperbanyak sebagai pengatur sirkulasi udara di dalam ruang rumah; misalnya terdapat view-view yang menarik yang bisa dipakai sebagai 'catch eye', ataupun terdapat view yang jelek yang sebaiknya ditutupi pandangan ke arah sana; terus kemana arah angin cenderung berhembus, dsb). Tapi semua itu bisa diantisipasi dengan komunikasi yang intent antara si arsitek dengan klien sebelum memulai untuk merancang rumahnya.

Perlu perhitungan yang matang dan pemikiran yang fokus untuk menganalisa semua info yang didapat dari klien tersebut (info dari klien tidak hanya mengenai kondisi fisik lingkungan sekitar tapak, tetapi juga kehidupan lingkungan dan cerita kehidupan keseharian klien itu sendiri).

Banyak klien yang menginginkan produk instan (cepat digambar, cepat dibangun, dan kemudian cepat ditinggali), kondisi ini sangat mempengaruhi hasil akhir desain, dan yang pasti kondisi ini sangat mengurangi kualitas desain.

Desain itu butuh proses... proses memikirkan, menemukan, mempertimbangkan, memadu-padankan antara estetika, struktur, fungsi, ekonomis, dan kelestarian lingkungan.

Estetika; Struktur; Ekonomis >> Lahir dari perjalanan dalam mengumpulkan wawasan dan pengetahuan dari arsitek itu sendiri.

Fungsi >> adalah bagaimana bangunan/rumah tersebut dapat mempresentasikan semua kebutuhan penghuninya baik secara 'ke luar' ataupun 'ke dalam' >> penghuni nyaman, aman, damai dan bangga.

Jadi tujuan arsitek merancang bangunan adalah untuk penghuni dan lingkungannya bukan untuk DIRINYA. Tapi bukan berarti arsitek malah menjadi 'tukang gambar' saja menurut dan sesuai apa yang 'disuruh' klien (sembarang saja asal klien senang). Jadi sesuai dengan keinginan klien dan sesuai dengan kaidah keilmuan yang dimiliki oleh sang arsitek itu sendiri.