___CP : Rosi Rahadi__________________
Studio : Jl. Batubara 93 Malang - 65122
E-mail : arsiteka@yahoo.com
Phone : 08123313959/0341-7088824
YM : rosirahadi@yahoo.com
 

Seagram Building, New York

seagram4 Seagram Building didirikan pada tahun 1954-1958, sebagai pusat bisnis New York yang disesuaikan dengan kelas sosial pengguna bangunan. Bangunan ini lahir atas tuntutan zaman modern yang begitu canggih dan menginginkan status sosial yang berkelas, sehingga memacu semangat Mies Van Der Rohe untuk menciptakan suatu karya arsitektural yang spektakuler dengan berpedoman kepada :

  1. Adaptasi gaya bangunan untuk mengekspresikan imej dari kelas sosial pengguna bangunan dengan tidak mengabaikan semboyan "Less is More".
  2. Sederhana clan anggun, tetapi tetap mencerminkan sesuatu rang glamor clan selalu gemerlapan.
  3. Blok-blok rectanguler.
  4. Keseragaman (uniformity) clan Monumental (Monumentality).

Mies tetap eksis terhadap imajinasi dunia platonik-nya dengan tidak memikirkan hubungan site, iklim, aktivitas internal, di dalam mendesain bangunan. Mies lebih mengutamakan integritas bangunan tehadap lingkungannya serta mengeksploitasi sentuhan teknologi modern dan penggunaan material bangunan.

Seagram Building adalah gedung pencakar langit yang lahir pada abad ke-20. Bangunan di dirancang oleh Mies bersama-sama dengan Philip Jonhson yang menata interior ruang dalamnya. Tower Seagram Building terdiri ats 38 tingkat dengan luas 520 feet persegi tiap lantai dan hanya menempati 25% dari sitenya. Bagian podium yang tingginya relatif rendah (4-10 lantai) ditempatkan pada bagian belakang seperti tulang punggung yang kelihatan rectangular dan berdiri sendiri dengan sebuah blok plaza yang mengelilinginya, seolah-olah menjadi pengiring yang selalu siap untuk mendampingi tower utama. Kanopi yang menjorok ke luar, seolah-olah memberikan perlindungan dan ucapan 'selamat datang' bagi para pengunjung.

Seagram Building yang berbentuk Platonik, terdiri atas modul-modul berupa grid kaiak-kaiak berulang yang biasanya menimbulkan kekakuan, namun pada bangunan ini justru tampak lebih luwes dan seimbang. Sebagai konsekuensi, terlihat dua modul persegi yang terdapat pada jendela dan setengah modul persegi yang terdapat pada jendela dan setengah modul persegi terdapat pada panelspandrel yang terlihat proposional, kesemuanya tertuang pada fasade bangunan. Bangunan material seperti perunggu dan kaca tinta tipis (sheer tint glass), travertine, granit, keseluruhannya adalah untuk menciptakan imej modem dan mahal.

Pada Seagram Building, Mies berusaha untuk mengurangi dimensi yang ada dengan memperindah bentuk beam, serta menjadikan kolom profit sebagai kerangga dinding tirai yang berfungsi sebagai rangka mullion dengan jarak yang rapat dan disusun dari tepi ke tepi, dari atas ke bawah hingga meliputi seluruh fasade bangunan. Setiap detail, termasuk lift, tangga, perlengkapan pencahayaan, handle pintu, kaiak surat dari perunggu, semuanya didesain dengan penuh kehati-hatian. Fokus utama adalah dinding tirai (curtain wall) dengan detail-detail pada tiap sudutnya. Dinding sengaja dibuat tidak menutupi sudut dengan tujuan agar bagian pier sudutnya terekspos, sehingga secara visual, sudut bangunan itu menunjukkan kekokohan tradisional. Disisi lain, dinding tirai kelihatan seolah-olah tebal seperti ketebalan fluting pada pier dan I-beam, sehingga tepi sudut seolah-olah kelihatan seperti relief skliptural. Optical Refinement terdapat pada panel spandrel yang berbentuk relief tangga dan figura jendela. Dari semua itu, dapat dikatakan bahwa keberhasilan Mies Van De Rohe di dalam mengolah fasade bangunan, dimana kolom struktur profil yang sesungguhnya dibalut dengan chasing beton ditempatkan berdiri agak ke dalam, kolom sudut yang semu, ketebalan dinding tirai (curtain wall) yang setebal kusen jendela, kepiawaiannya terletak pada pengolahan setiap detail sudut pada Seagram Building.

Kritik dan Pandangan Arsitektural

seagram_building_frontSeagram Building sebagai salah satu bangunan pencakar langit didesain sesuai dengan bentuk International Style, terdiri atas pola grid berulang sehingga tampak kokoh. Imej kuat dan kokoh yang seharusnya tampak menonjol pada bangunan ini menjadi rancu pengertiannya dengan penggunaan dinding tirai (curtain wall) sebagai cladingnya. Mungkin Mies tetap memegang teguh prinsip perbaikan visual (visual refinement) dengan penggunaan clading kaca dan bukan keramik, manner atau beton. Namun disisi lain, imej kuat dan kokoh menjadi tidak konsekuen dengan sendirinya. Sedangkan visual refinement yang diinginkan Mies untuk menimbulan kesan yang dramatis, sampai sejauh ini belum dapat memecahkan efek visual bentuk geometris sudut interior Seagram Building.

Aksi pembebanan yang kacau balau tampak pada kolom yang tidak teratur, kalang kabut kadang renggang, merupakan hal yang kritis sekali bagi Mies. Bentuk-bentuk struktural hanya digunakan sebagi dekorasi saja dengan maksud rang sama seperti Romawi yang menggunakan sistem struktur Yunani yaitu kolom dan kepala kolom (entablatur). Arsitektur Mies memiliki analogi klasik dalam penggunaan kolom-kolom rigid, keteraturan, kesederhanaan, yang ditampilkan dalam fasade bangunan.

0 comments:

Post a Comment