___CP : Rosi Rahadi__________________
Studio : Jl. Batubara 93 Malang - 65122
E-mail : arsiteka@yahoo.com
Phone : 08123313959/0341-7088824
YM : rosirahadi@yahoo.com
 

Menyelamatkan Peradaban dg Disain

[1]

Seorang ibu tua gemuk dalam wajah yang lelah terlihat menenteng sebuah kursi. Ia sumringah tersenyum puas. Antriannya selama berjam-jam dalam panas terik tidaklah sia-sia. Sebuah kursi cantik, karya desainer furnitur Inggris terkenal Tom Dixon, ia dapatkan dengan gratis. Hari itu, dalam rangka London Design Festival, Tom Dixon membagi-bagikan ratusan kursi karyanya gratis kepada publik. Setelah dipamerkan seharian dalam bentuk seni instalasi di ruang luar, hanya dalam tempo 15 menitan ratusan kursinya ludes diambil para pengantri.

Itulah salah satu cara Inggris mempopulerkan wacana desain. Desain menjadi kata yang sangat populer minggu itu. Pada pertengahan september lalu seluruh London seperti kerasukan wacana desain dengan adanya London Design Festival. Festival ini menyelenggarakan pameran karya-karya desainer muda, open house gedung-gedung privat untuk dikunjungi umum, eksebisi kelas dunia untuk dunia interior, material-material bangunan, ceramah umum desainer kelas dunia, seminar dan lain sebagainya.

Inggris punya alasan. Ia bermimpi untuk menjadi pusat desain dan arsitektur dunia. Untuk visi itu, maka masyarakatnya harus dididik untuk melek desain. Desain harus menjadi keseharian. Wacana`good design is good business' harus menjadi kebutuhan. Padahal di Inggris 15 tahun lalu wacana desain tidaklah menjadi hal krusial. Namun sekarang, belasan majalah desain, arsitektur dan lifestyle memenuhi rak-rak toko buku, acara-acara yang meliput kegiatan desain grafis, iklan, furnitur sampai arsitektur menjadi hal yang umum.

"Jangan meremehkan mukjizat desain!" ujar Sir Terence Conran, seorang entrepreneur legendaris di dunia desain. "Desain mampu melipatgandakan nilai ekonomi sebuah objek", lanjutnya. Ia mengungkapkan bahwa sebuah kursi dengan harga produksi sebesar seratus dollar bisa dijual ribuan dollar hanya karena keunikan desainnya, ungkap pemilik retail Habitat dan Conran Store ini. Pesannya sangatlah jelas. Tanpa desain tidak ada nilai tambah.

Museum Guggenheim di kota Bilbao Spanyol adalah contoh klasik dalam konteks di atas untuk kategori arsitektur. Setelah ia berdiri, karena publikasi yang mendunia, sekitar empat jutaan pelancong datang ke kota tersebut hanya untuk melihat keunikan museum yang dirancang oleh arsitek Frank Gehry. Bayangkan, jutaan pelancong itulah yang membawa devisa 14 trilyun rupiah ke kota industri di Spanyol ini. Maka tak heran jika "The Bilbao Effect" menjadi impian para walikota kota-kota di Eropa sana.

[2]

"Masa depan dunia adalah ekonomi kreatif," ungkap Richard Florida, sosiolog dari Amerika. Ia menyiratkan bahwa siapa pun yang memiliki bakat (talent), jejaring (network) dan kewirausahaan yang inovatif (entrepreneurship) dialah yang akan memenangkan persaingan global di masa depan. Dan industri desain, dari desain grafis sampai arsitektur, adalah salah satu motor gerakan ekonomi kreatif atau populer juga dengan istilah `knowledge economy'.

Karenanya tetangga kita Singapura, yang selalu panik mereposisi perannya di percaturan ekonomi global, melihat peluang ini juga secara serius.Singapura berambisi menjadi pusat ekonomi kreatif di Asia. Perdana Menteri Lee Hsien Long tahun 2005 meluncurkan tiga gerakan nasional: Design Singapore, Media 21 dan Rennaisance City 2.0. Mereka berharap sumbangan bagi pertumbuhan ekonominya akan tumbuh dua kali lipat selama tujuh tahun dari tiga industri kreatif tadi.

"Knowledge is power," sabda filsuf Francis Bacon. Dan Inggris pun menterjemahkan filosofi itu dalam bentuk reposisi sistem ekonomi yang merespons peluang ekonomi kreatif ini. Kota-kota industri seperti Birmingham, Glasgow, Brighton atau NewCastle perlahan-lahan sudah mulai meninggalkan ketergantungan pada ekonomi berbasis industri. Kota-kota ini mulai menggiring iklim ekonominya ke arah ekonomi kreatif dan aktivitas industri desain sebagai tulang punggungnya. Ekonomi kreatif adalah rumah barunya, dan desain adalah kunci pintunya.

Dunia akademik, swasta, LSM dan pemerintah terlihat bersepakat untuk kompak. Kawasan-kawasan kota yang mati diregenerasi lagi untuk menjadi tempat berkiprah para pemula (start-up) di industri kreatif. Insentif ekonomi diperbesar. Hasilnya pun luar biasa. Pertumbuhan ekonomi kreatif ini hampir 3 kali lipat dari pertumbuhan ekonomi nasionalnya. Ekspor dari ekonomi kreatif ini sebesar 15 %. Lebih besar dari ekspor ekonomi jasa sebesar 7% atau ekspor ekonomi umum lainnya yang hanya 4%.

[3]

"Saya suka London karena toleransi, keragaman budaya dan kemudahan infrastruktur bagi desainer pemula," ungkap Sebastian Noel, desainer produk berbasis teknologi dari sebuah perusahaan bernama Troika. Troika adalah firma pemula yang mempunyai visi mengawinkan teknologi terapan dan desain untuk kepentingan publik. Di kota ini ia dengan mudah bisa menghubungi institusi Creative London jika butuh bantuan untuk mencari partner bisnis. Tinggal mampir ke London Design Council jika butuh nasihat-nasihat teknis dan bank data pabrik manufaktur yang bisa mewujudkan ide-ide kreatifnya. Di acara London Design Festival ia pergunakan untuk memamerkan karya-karya terbarunya ke masyarakat. Dan puluhan firma pemula ala Troika pun menjamur subur di London

London memang istimewa. Setiap tahun di bulan September, selama dua minggu digelar belasan acara yang berhubungan dengan desain. Ada open house firma-firma desain/arsitektur, open house gedung-gedung unik yang sehari-hari tertutup untuk publik. Ada acara 100% DESIGN tempat para desainer dari 30-an negara memamerkan karya-karya terbarunya, acara 100% LIGHT dan 100% MATERIAL untuk pameran teknologi lampu dan material terbaru. Seluruh masyarakat London pun terkena deman desain.

Kesiapan infrastruktur desain ini terkesan merata hadir di kota-kota lain di Inggris. Di Glasgow terdapat gedung tua karya Charles Rennie Mackintosh sebagai tempat bernaung organisasi desain bernama Lighthouse. Sebuah one-stop design center. Di gedung 5 lantai ini dihadirkan galeri-galeri tempat pameran karya para desainer/arsitek museum desain, restoran/kafe, ruang pertemuan yang disewakan, retail desain dan kantor-kantor firma desain.

Di sini pula didirikan departemen Creative Entrepreneurs Club (CEC), sebuah wadah serius tempat memotivasi dan melatih para desainer pemula untuk berani mengembangkan bisnis desainnya dengan serius dan mengglobal. Menariknya wadah ini membuka diri untuk menerima anggota diri seluruh penjuru dunia.

[4]

Bagaimana dengan Indonesia?

Tahukan anda, bahwa di Indonesia bertebaran para desainer, arsitek dan pekerja ekonomi kreatif lainnya yang sangat berbakat dan bedeterminasi tinggi. Leo Theosabarata dengan karya kursi Accupunto; Castle Production di Pasar Baru Jakarta yang menghasilkan animasi kelas dunia Carlos the Catterpilar dan The Jim Elliot Story; Sibarani Sofyan seorang urban designer muda yang karya-karyanya bertebaran di Malaysia, Cina dan Dubai; Christiawan Lie, komikus GI Joe yang naik daun di Amerika, Budi Pradono, arsitek muda yang mendapatkan penghargaan Architectural Review. Dan masih banyak lagi yang tersembunyi bergerilya mendunia dengan karya-karyanya tanpa kita tahu.

Salah satu masalah kita ada ketidakhadiran infrastruktur dunia desain. Semua kelompok dalam industri desain, mulai dari dunia grafis sampai arsitektur tercerai berai bergerak sendiri-sendiri. Tidak ada visi bersama untuk arah jangka panjang yang jelas. Di luar negeri pun Indonesia tidak punya reputasi atau `brand image' yang kuat untuk produk-produknya. Hal ini diperparah dimana pemerintah pun belum melihat desain dan ekonomi kreatif sebagai prioritas. Sangat khas Indonesia. Atau dengan istilah Florida, Indonesia itu penuh memiliki bakat (talent) kelas dunia tetapi tidak memiliki jejaring (network) dan kewirausahaan yang inovatif (entrepreneurship).

Sudah umum jika kita mendengar bahwa banyak para desainer yang kebingungan mencari manufaktur yang bisa membantu mewujudkan idea-idenya briliannya yang mungkin berpotensi bisnis milyaran rupiah. Banyak arsitek muda yang kebingungan bagaimana memulai bisnis desain dan menetukan fee desain. Para desainer juga sering kesulitan untuk mencari modal ke Bank karena sering ditolak karena tidak punya fixed asset kecuali ide-ide kreatifnya.

Tidak seperti di Skotlandia dengan Lighthouse atau Thailand dengan Thailand Design Center (TDC), ketiadaan infrastruktur industri desain di negeri kita, akhirnya melunturkan semangat `entrepreneurship' dari para desainer muda berbakat. Jangan heran jika terjadi yang dinamakan Richard Florida sebagai `The Flight of Creative Class', dimana para manusia-manusia berbakat akhirnya mengungsi ke luar negeri yang lebih kondusif.

Bayangkan jika seluruh desainer dari seluruh industri desain bersepakat untuk menjadikan desain dan ekonomi kreatif sebagai lokomotif ekonomi Indonesa di masa depan. Bayangkan jika ide-ide kreatif yang brilian selalu bertemu dengan nafas semangat kewirausahaan. Di Inggris, perkawinan inilah yang menghasilkan nilai ekonomi sebesar 28 milyar poundstering untuk industri desain dan arsitektur dan 112 milyar Poundsterling keseluruhan ekonomi kreatif.

Seperti yang pernah diwacanakan oleh Nigel Cross, bahwa peradaban manusia berkembang dengan kemajuan tiga ranah keilmuan: Sains (kebenaran), Humaniora (keadilan), dan Desain (kecocokan). Karenanya kapan lagi kita bergerak bersama mewujudkan Indonesia yang lebih makmur melalui desain dan reputasi global yang lebih baik jika tidak sekarang.

Mari kita selamatkan peradaban dengan Desain. Setidaknya untuk anak cucu kita.


*M. Ridwan Kamil, Dosen Arsitektur ITB dan Principal PT. URBANE
(Recipient of International Young Design Entrepreneur of the Year from British Council Indonesia)

0 comments:

Post a Comment